Opini  

Memahami Tradisi Markobar Dari Segi Pandangan Islam

Markobar Pandangan Islam

NewsPendidikan-Tradisi Markobar merupakan salah satu tradisi dari adat mandailing yang pada dasarnya tradisi ini sejalan dengan ajaran agama islam. Jika dilihat dari rangkaian acaranya dari awal hingga akhir yang didalamnya terdapat nasihat-nasihat yang baik serta berguna bagi kehidupan, maka dari segi pandangan islam markobar sama sekali tidak ada pertentangan. Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt dalam surah Al-Ashr ayat 1-3 yang inti dari ayat ke 3 surah ini mengatakan saling menasihatilah untuk berada dalam ketaatan dan saling menasihati dalam kesabaran.

Demi masa. Sesungguhnya manusia dalam keadaan merugi. Kecuali orang-orang yang beriman, beramal shaleh, dan saling menasihati dengan kebenaran dan saling menasihati dengan kesabaran. (QS. Al-Ashr [103]: 1-3)

jika melihat dari Qawaidul Fiqhiyyah hukum segala sesuatu itu boleh sampai datang dalil mengharamkan atau mewajibkan perkara tersebut. Maka dengan belum adanya fatwa yang mengharamkan markobar, tradisi ini boleh dilakukan asalkan tidak melanggar syariat islam. Markobar merupakan tradisi yang telah dilakukan masyarakat mandailing secara turun temurun dengan status pandangan hukum islam merupakan bagian dari Urf. Adat istiadat dalam islam dikenal dengan istilah urf. Urf diambil dari kata ‘arafa,  ya’rifu sering  diartikan  dengan“al-ma’ruf”dengan   arti: “sesuatu   yang   dikenal”.   Pengertian   “dikenal”   ini   lebih   dekat   kepada pengertian  “diakui  oleh  orang  lain atau dalam artian adat istiadat dan juga kebiasaan yang telah dikenal dan dilakukan masyarakat di daerah tersebut.

Adapun adat istiadat (Urf) terbagi atas dua penilaian yaitu:

  1. Adat yang shahih yaitu adat yang dilakukan secara berulang-ulang yang tidak ada pertentangan dengan ajaran agama islam, sopan santun, dan budaya yang luhur seperti melaksanakan Halal Bi Halal pada hari raya idulfitri dan juga memberikan hadiah sebagai ungkapan penghargaan atau rasa sayang terhadap seseorang.
  2. Adat yang fasid. Jika suatu adat ada yang dikatakan sejalan dengan ajaran agama maka ada juga adat yang bertentangan dengan ajaran agama islam, norma yang berlaku, budaya luhur dan sopan santun. Pada dasarnya adat bisa dikatakan haram jika dalam adat tersebut mencampurkan antara yang haq (kebenaran) dan yang bathil (keburukan). Adapun yang dimaksud seperti melaksanakan pesta dengan menghidangkan minuman haram dan melupakan kewajiban ibadah pada tuhan sang pencipta.

Markobar masuk kedalam adat istiadat yang shahih yang dilaksanakan secara berulang dan sesuai dengan syariat islam, sopan santun, dan budaya luhur serta tidak bertentangan dengan norma yang belaku. Dalam adat markobar berisi tentang perkataan nasihat yang disampaikan oleh keluarga dan juga tetua adat untuk memberikan keteladanan dalam berbahasa dan memberikan contoh kesantunan berasaskan sistem sosial dalian natolu yang dijadikan landasan bertatacara dalam pelaksanaan markobar.

Untuk mengetahui lebih lanjut apakah markobar bertentangan dengan ajaran islam, maka perlu diketahui dulu apa tujuan dari markobar itu sendiri dan apa saja hal ingin dicapai dalam pelaksanaan markobar tersebut. Sejatinya Markobar bertujuan untuk memberikan nasihat kepada orang lain baik dalam tradisi pernikahan ataupun kematian. Menasihati juga terdapat dalam ajaran islam yang sangat bermanfaat dalam membentuk keteladanan, karakter, sopan santun seseorang kepada orang yang lebih tua atau orang lain. Maka samalah markobar dengan menasihati dalam ajaran agama islam dengan catatan tidak mencampurkan suatu kebenaran dengan kemungkaran.

Baca Juga: Karate SDS Wira Mandiri Ikuti Ujian Kenaikan Tingkat KYU

Hukum-hukum yang didasarkan pada urf bisa berubah sesuai dengan perubahan masyarakat pada zaman tertentu dan tempat tertentu, maka urf akan mengikuti perubahan hukum tersebut. Hal ini sesuai dengan kaidah

الحكم يتغير بتغير الأزمنة والأمكنة والأحوال والأشخاص والبيئات

“Ketentuan hukum dapat berubah dengan terjadinya perubahan waktu, tempat, keadaan, individu, dan perubahan lingkungan”.

Atas dasar ini adat markobar bisa berubah sewaktu-waktu hukumnya jika terjadi perubahan zaman kejalan yang salah dan dilakukan ketempat yang salah. Dalam artian tradisi markobar mengikuti perkembangan zaman dengan mencampurkan kemungkaran, maka hukum asal boleh tersebut bisa saja menjadi haram.

Terkadang dalam adat markobar seringkali ditemukan banyak orang yang ikut andil dalam acara tersebut tidak menghiraukan kewajiban agama islam. Kewajiban yang dimaksud disini adalah kewajiban menunaikan shalat lima waktu. Hal inilah yang bisa membuat hukum asal markobar yang boleh dilakukan bisa menjadi haram jika orang yang hadir melalaikan kewajibannya. Maka dari itu perlulah kebiasaan yang menyimpang ini diganti serta disesuaikan dengan ajaran agama.

Markobar dari segi pandangan islam jika dilihat dari uraian-uraian diatas dapat kita tarik kesimpulan bahwa segala jenis nilai budaya yang sejalan dengan ajaran islam boleh dilakukan dengan memandang syariat dan ketentuan Allah SWT. Adat istiadat yang sejalan dengan ajaran islam maka hendaklah dilestarikan dan ditingkatkan kembali, jangan sampai apa yang sudah sesuai dengan syariat islam dicampurkan dengan keburukan dengan landasan mengikuti zaman.  Praktek markobar sudah sejalan dengan islam yaitu memberikan nasihat untuk mengerjakan kebaikan dan meninggalkan keburukan, akan tetapi perlu ada sedikit yang diluruskan dalam tata cara pelaksanaanya yaitu agar lebih memperhatikan waktu dan untuk selalu mengingat Allah SWT dimanapun berada dan dalam kondisi apapun. Agar kedudukan syariat lebih tinggi dari kedudukan adat istiadat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *