Apakah Extrovert Bisa Terkena Depresi?

extrovert

NewsPendidikan – Tahukah kalian apakah itu extrovert? Pasti diantara kita sudah tidak asing lagi mendengar kata extrovert. Orang yang extrovert itu bisa terkena depresi loh. Sebelum membahas lebih dalam ketahui dulu apa pengertiannya yuk. Extrovert merupakan sebuah kepribadian. Pencetus psikologi analitis yaitu Carl Gustav Jung mendefinisikan kepribadian yaitu “keseluruhan akan perasaan,pemikiran dan tingkah laku baik sadar maupun tidak”. Extrovert adalah kepribadian yang lebih cenderung menikmati ruang bebas yang aktif dengan cara berteman serta suka berbicara bersama orang sekitarnya. Seseorang extrovert menjadi lebih bersemangat buat melakukan banyak hal. Apabila mereka berada dilingkungan yang interaktif seseorang extrovert biasanya menjadi orang yang ice breaker atau pencair suasana.

Akan tetapi seseorang yang extrovert bisa terkena depresi? Iya bisa. Karena depresi tidak pandang bulu. Meskipun sebagian dari kita mungkin memandang depresi salah satunya seperti tidak punya teman untuk menceritakan masalah hidup dan lainnya. Dan mungkin sebagian dari kita melihat extrovert mudah untuk mendapatkan teman buat tempat cerita. Depresi bisa datang kesiapa saja dan penyebabnya bisa dari factor internal secara biologis seperti gen,struktur otak,serotonin maupun factor eksternal seperti toxic relationship,kehidupan modern,budaya,alam dan lain sebagainya. Ketika extrovert terkena depresi dia cenderung percaya bahwa menjadi seseorang yang sangat ramah dalam situasi social dan dapat mudah berteman dengan siapa pun bukanlah menjadi sebuah kesuksesan.

Seseorang extrovert yang terkena depresi akan mengembangkan sisi introvertnya dan belajar untuk memahami dirinya sendiri. Mereka akan mulai menarik diri dengan perlahan-lahan,mencari ruang untuk dirinya dan menjauhi keramaian. Seseorang extrovert akan suka menjadi lebih hening,yang seorang periang akan berubah menjadi pendiam. Hal ini bisa terjadi karena stress,kurang tidur dan kurang baiknya mood seseorang. Pada umumnya seorang extrovert menjadi ekspresif,ketika ia mengalami depresi maka menyebabkan emosinya menjadi kacau,mudah tersinggung dan menyalahkan orang disekitarnya.

Akhirnya,jika depresi yang dialaminya parah,maka seorang extrovert dapat memilih untuk mengobati dirinya sendiri dan menjadi seorang tertutup. Selain itu seorang extrovert juga bisa berubah dan hidup didalam rumahnya sendiri atau membenci dirinya.  Depresi sangat berdampak bagi orang yang extrovert, salah satunya dapat menjadikan dia seseorang yang lebih tertutup dari orang yang introvert.

Nah,berikut ini lima dampak mendalam ketika orang extrovert terkena depresi :

  1. Menarik diri dari orang-orang disekitarnya

Efek atau akibat pertama ialah dia menarik diri dari orang-orang yang berada disekitarnya. Jadi ketika anda melihat seorang teman yang extrovert perlahan menjauh dari keramaian maka dia tidak baik-baik saja. Saat depresi,semua orang,diri kita pasti membutuhkan ruang untuk mereka sendiri.

  1. Emosinya sangat tidak terkendali

Dengan begitu juga membuatnya lebih sulit untuk mengendalikan emosinya. Extrovert biasanya ekspresif. Jadi ketika dia depresi,maka emosinya menjadi kacau dan bahkan dia sering mudah marah. Pada tingkat ini,orang-orang disekitarnya menjadi tahu bahwa dia sedang stress.

  1. Banyak diam

Lalu dampak signifikan lainnya adalah mencegahnya berbicara terlalu banyak. Tidak heran jika seorang extrovert menjadi orang yang aktif berbicara,membuat lelucon tetapi ketika dia depresi maka akan menjadi seorang pendiam. Ini sangat terlihat karena stress dan pikiran yang berat merusak suasana hatinya.

  1. Pada depresi berat,lingkungan sosialnya juga berubah

Dengan lingkungan sosialnya berubah maka dia menarik dirinya dengan menjadi introvert,sementara yang lain dapat melampiaskan depresinya dengan cara berpesta atau bersenang-senang dengan orang baru. Meski pada akhirnya hal tersebut bisa membuat depresinya menjadi parah.

  1. Membenci dirinya sendiri atau hidupnya

Dengan depresi yang berat maka dia akan berpikir bahwasanya ini semua terjadi karena dirinya sendiri dan pada akhirnya dia membenci kehidupannya dan menyalahkan terus-menerus dirinya sendirinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *